Welcome

Delete this widget from your Dashboard and add your own words. This is just an example!

UNGGUL [NASKAH GGD]

Jumat, 22 April 2016




Mereka sudah menjadi anak-anak kita-seperti apapun mereka, kita harus mendidik mereka karena itu adalah kewajiban kita sebagai seorang guru
-Wardan Syah-
 

Dian Pratama Sari, GGD Aceh Selatan, Penugasan SMA N Unggul Aceh Selatan, Bidang Studi Fisika, asal Cilacap, Jawa Tengah.

Ini adalah jalan Allah yang tidak pernah bisa ditampik kebenarannya. Mungkin, melalui do’a malaikat kala itu, Allah mengabulkan pembicaraan singkatku dengan kakak tingkat ketika aku duduk di bangku SMA kelas XI. Saat itu, beliau bertanya, “Dian mau jadi guru, ya? Guru yang seperti apa?”, lalu aku menjawab, “iya, Dian pengin jadi guru yang bisa ngajar di daerah yang terpencil, daerah tenang ga ada bising.”
Pembicaraan itu terkenang kembali saat Yudisium kelulusanku. Dekan FMIPA UNY mengumumkan adanya program SM-3T (Sarjana Mendidik daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Sontak dalam benakku, ini adalah kesempatan besar mewujudkan apa yang selama ini aku impikan.
Singkat cerita, aku menjadi bagian dari MSI (Masyarakat SM-3T Indonesia), bertugas di Nusa Tenggara Timur, SMP N Satap Nggemo Kecamatan Maukaro. 10 Bulan di daerah penugasan, memberikan kesan mendalam tentang bagaimana 60 tahun lebih Indonesia merdeka ternyata belum sepenuhnya memberikan kemerdekaan pada Pendidikan di Indonesia.
26 Mei 2015, Negara mengirimku kembali ke tempat tugasku yang kedua, yakni Kabupaten Aceh Selatan. Ini adalah pilihan yang sulit. Bagaimana tidak sulit? saat itu, aku masih berstatus sebagai mahasiswa pascasarjana semester II Universitas Negeri Yogyakarta. Melalui banyak lobi dengan dosen, aku menyelesaikan kuliah di semester II dengan baik. Orang tua, hanya memberikan pesan bahwa apapun yang kita lakukan adalah bentuk dari sebuah pilihan. Apapun pilihan kita, jalani dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan hati. Jadilah Guru yang berprestasi.
***
Aceh Selatan, memiliki pemandangan Pendidikan yang berbeda dengan Nusa Tenggara Timur. Pendidikan di sini, terasa lebih kental terbukti dengan adanya program Sekolah Unggul dari pihak Kabupaten terlebih dari pihak kabupaten aku ditugaskan di salah satu sekolah unggul tebaik di Kabupaten Aceh Selatan, yaitu SMA N Unggul Aceh Selatan. Terletak di pusat Kabupaten, merupakan sekolah berasrama yangmana peserta didik yang masuk adalah peserta didik pilihan. Mereka melalui 5 kali tahapan tes masuk (tes tulis, tes kemampuan bahasa inggris, tes mengaji, dan wawancara serta tes potensi akademik), memiliki waktu belajar di atas rata-rata sekolah pada umumnya yaitu sesi pagi (07.30-13.05), sesi sore (14.30-17.50) dan sesi malam (08.15-21.35). Alhasil, berdasarkan data prestasi belajar peserta didik, rata-rata nilai semesternya dapat mencapai 89. Selain itu, dalam kompetisi berbasis pendidikan seperti Lomba Cerdas Cermat, Lomba Debat Bahasa Indonesia, Lomba debat Bahasa Inggris ataupun Olimpiade Sains Kabupaten, SMA N Unggul Aceh Selatan selalu menduduki peringkat 2 besar di Aceh Selatan.
 
Pikirku saat mengetahui hal tersebut, sepertinya aku salah sasaran apabila ditempatkan di sekolah ini.
***
Hari pertama masuk sekolah, pengalaman berharga buatku. Salah seorang peserta didik mencoba menguji pemahamanku tentang materi gelombang. Dia berkata bahwa soal yang aku berikan, tidak logis. Tali sepanjang 1 meter membentuk gelombang sebanyak 4 buah sehingga panjang gelombang yang terbentuk adalah 0,25 m. Melihat kejadian tersebut, aku mencoba menjelaskan menggunakan media seadanya sehingga peserta didik tersebut memahami apa yang dimaksud dengan banyak gelombang dan panjang gelombang.
Berkaca dari hal tersebut, mengingatkanku pada kebiasaan sewaktu aku SMA. Selalu membuat guru naik darah karena protes nilai yang tidak adil, jawaban benar yang disalahkan, konsep yang tidak sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam buku. Paling tidak aku tahu dan menyadari bahwa peserta didikku sekarang adalah tipe peserta didik yang tidak hanya menerima pengetahuan dari guru belaka tetapi mereka adalah peserta didik yang mampu dengan baik mengevaluasi pengetahuan yang guru berikan. Mereka berlari mengejar impian, menjadi pribadi pembelajar yang mandiri. Mereka mampu diajak berdiskusi dan mengembangkan model pembelajaran yang benar-benar berpusat pada peserta didik.
Dalam hatiku bersyukur bahwa di Barat Indonesia, Bagian terdepan dari Indonesia, Indonesia memiliki calon-calon penerus Bangsa yang luar biasa dan aku menjadi bagian dari mereka untuk bersama mencerdaskan Indonesia.
***

Semester pertama, aku lalui dengan agenda mengajar kelas XI pada sesi pagi dan malam serta kelas XII pada sesi pagi dan malam juga. Selain itu, aku ikut aktif menjadi bagian tim pengajaran di SMA N Unggul Aceh Selatan. 28 Jam adalah jam kerjaku selama 1 minggu pada semester 1 ditambah dengan adanya tugas sebagai pembimbing Olimpiade Fisika selama 3 jam di setiap hari Sabtu.
Berbicara masalah Olimpiade, ini adalah kali pertama aku benar-benar menjadi pembimbing. Biasanya, hanya sebagai kawan yang diajak diskusi permasalahan olimpiade, tetapi sekarang diberikan amanah untuk membimbing 11 anak berbakat dan berminat dalam mata pelajaran fisika yang nantinya harus diseleksi menjadi 5 anak yang harus diajukan dalam kompetisi Olimpiade Sains kabupaten. Dimulai  dari awal semester 1, aku sudah mulai membimbing mereka. Dengan berbekal niat dan tekad, aku berusaha sebaik mungkin untuk mentransfer pengetahuan kepada mereka. Kamis, 18 Februari 2016 jika tidak salah ingat adalah hari dimana kompetisi diselenggarakan dan dari cabang fisika, mengirimkan Rahmanda Harbi (XI), A.F. Riyadhul Athaya (XI), Ilham Luthfi (XI), Yoga Ichlassul Amal (X), dan Putri Nurul Alfiza (X) sebagai perwakilan sekolah. Alhamdulillah, satu dari lima anak yang dikirimkan dapat meneruskan pada kompetisi selanjutnya Olimpiade Sains Provinsi atas nama Rahmanda Harbi yangmana dia berhasil menduduki peringkat ke-3. Perjuangan untuk menempatkan Rahmanda Harbi pada peringkat ke-3 tidaklah mudah. Pada awal pengumuman, dinyatakan bahwa tidak ada perwakilan dari SMA N Unggul Aceh Selatan cabang Fisika yang meneruskan pada tahap Olimpiade Sains Provinsi tetapi berbekal pernyataan Rahmanda yang meyakini bahwa dirinya dapat mengerjakan tes kemarin dengan baik, dan berbekal tanggungjawab yang diberikan sekolah kepadaku, dengan ditemani oleh seorang guru senior aku memberanikan diri untuk bertanya pada dinas pendidikan Kabupaten Aceh Selatan. Setelah melihat hasil kerja Rahmanda, dapat diketahui bahwa terdapat beberapa jawaban yang tidak dinilai oleh korektor. Untuk itu, panitia memberikan kesempatan untuk meminta penjelasan kepada korektor dan Alhamdulillah korektor sama sekali tidak berkeberatan untuk memberikan penjelasan. Akhir dari penjelasan korektor, dinyatakan bahwa Rahmanda Harbi memiliki skor yang sama dengan peringkat ke-3 sebelumnya, yaitu Kelvin peserta didik asal SMA N 1 tapaktuan. Oleh karena itu, melalui persetujuan Kepala Sekolah, Panitia Olimpiade Sains Kabupaten, dan Dinas Pendidikan kabupaten Aceh Selatan, diselenggarakanlah tes ke-2 untuk Rahmanda Harbi dan Kelvin. Hasil dari tes ke-2 dinyatakan bahwa Rahmanda Harbi keluar sebagai peringkat ke-3.
Belajar dari hal tersebut, meskipun kita harus berhadapan dengan pihak yang memiliki kekuasaan lebih tinggi, pihak-pihak yang berkompeten, pihak-pihak senior, prinsip kita adalah satu “menjunjung kebenaran”. Apabila yang kita yakini adalah benar, jangan pernah takut karena Allah selalu berada dihati orang-orang yang selalu menjunjung kebenaran dengan penuh tanggungjawab.  Jangan pernah ragu dan jangan termakan oleh prasangka yang belum benar adanya. Hadapi apa yang harus dihadapi.

Semester dua adalah semester yang penuh dengan jadwal-jadwal mepet. Persiapan Ujian Nasional menyita perhatian begitu banyak ditambah pekerjaan menjadi tim Pengajaran tidak sedikit untuk mempersiapkan Ujian Nasional. Mulai dari Bimbingan Belajar Ujian Nasional yang mengharuskan 6 mata pelajaran selama 4 bulan bertatap muka penuh sehingga ada beberapa mata pelajaran yang ditiadakan pada semester 2 khusus untuk kelas XII, seperti contohnya penjaskes dan seni budaya. Selain itu, mengorganisasi guru agar paling tidak akhir Februari harus sudah menyelesaikan materi pembelajaran pada semester dua karena pada Bulan Maret hanya akan ada  Ujian Praktik, Ujian Sekolah, dan 2 kali Ujian Try Out kabupaten.Selain itu, mengorganisasi penyusun soal Ujian Sekolah agar segera menyerahkan soal pada bagian Kurikulum/ Pengajaran pada akhir minggu ke-3 februari. Belum selesai mempersiapkan Ujian Nasional, aku sudah dihadang dengan tugas persiapan Penerimaan Peserta Didik Baru 2016/2017 yang mewajibkanku untuk menyusun soal IPA. Lain dari pada itu, segera setelah Ujian Nasional selesai, mulai pada pekerjaan mempersiapkan kegiatan Ujian Semester 2.
Kondisiku yang tidak lagi menjadi wanita single tidak menyurutkan aktivitasku di sekolah. Alhamdulillah suami mendukung penuh tugasku sebagai guru karena tidak lain beliau juga sejiwa dengan ku. Hatinya tidak bisa berpaling dari dunia pendidikan seperti diriku yang akan selalu berbuat semaksimal mungkin agar peserta didikku dapat belajar dengan baik dan benar serta memperoleh nilai yang maksimal.
Mengacu pada prestasi belajar yang ditorehkan kelas XII pada Ujian Sekolah dan Ujian Try Out Kabupaten sedikit banyak memberikan kesan baik padaku. Hanya beberapa anak yang nilainya di bawah Kriteria Kelulusan Minimal (KKM) tetapi berdasar pada rata-rata nilai kelulusan, memberikan data bahwa 100% untuk mata pelajaran Fisika dinyatakan Lulus dengan rata-rata nilai sebesar 80.
Ini adalah awal yang baik. Pengalaman pertama menjadi guru kelas XII tidaklah mudah tetapi tetap harus selalu berusaha dan belajar serta berdo’a. Hal ini tentu saja sebagai bahan evaluasiku ke depan untuk menjadi guru yang lebih baik lagi.
***
Buatku, mereka adalah pribadi yang luar biasa. Mengapa luar biasa?Sesuai dengan namanya SMA N Unggul Aceh Selatan. Mereka adalah pribadi yang benar-benar unggul, baik dari segi akademik, agama, maupun seopan santun. Meskipun tidak sedikit dari mereka yang masih membutuhkan beberapa bimbingan, tetapi jika ditilik lebih dalam lagi, kata unggul ada di dalam benak mereka dan mereka mengemban kata Unggul dengan baik di hati mereka.
Jadi, tidak salah ketika Bapak Wardan Syah, S.Pd selaku Kepala Sekolah menyatakan seperti pada kalimat pembuka cerita ini bahwa kewajiban kita sebagai guru adalah mendidik peserta didik tidak hanya mengajar mereka. Kita juga sebagai konselor untuk mereka. Mengajar dan mendidik harus selalu dicamkan dalam hati kita selaku seorang guru untuk siapapun yang menjadi peserta didik kita. Tidak ada peserta didik bodoh, yang ada adalah mereka yang belum menemukan dimana letak kemampuan terbaik mereka. Untuk itulah kita hadir membersamai mereka dalam menggapai masa depan yang lebih cerah.
***
dipagi hari yang cerah ini-kulangkahkan kaki dengan pasti
menuju puncak bukut gemilang-kuraih masa depan
SMA Unggul Aceh Selatan
Kebanggaan kita semua
disana ku dibina dan didera untuk kejayaan negara
ayo kita bangun Indonesia-ayo kita bangun kota naga
mari kita raih prestasi untuk kota naga nan jaya
SMA Unggul Aceh Selatan
kebanggaan kita semua
)* Mars SMA N Unggul Aceh Selatan
***
Jika aku masih berpikir kalau penempatanku ini adalah salah sasaran, sepertinya aku harus mengoreksi kata-kataku
Aku ini adalah abdi negara,
Allah menempatkanku sebagai Abdi negara ditempat yang terbaik untuk menjadikanku guru yang baik, maka dimanapun tempatnya, aku harus bisa senantiasa bersyukur karena itu merupakan rezeki yang Allah berikan kepadaku

Oleh karena itu, menjadi seorang guru adalah tugas dan tanggungjawab yang luar biasa yang harus diemban. Seorang guru harusnya mampu menjadi pribadi yang unggul. Unggul dalam mengajar dan unggul dalam mendidik. Unggul dalam memasukkan unsur pembelajaran yang bersifat kontekstual dan kekinian sehingga menghasilkan peserta didik yang melek terhadap perkembangan kehidupan.


0 komentar:

Posting Komentar