“Mereka
sudah menjadi anak-anak kita-seperti apapun mereka, kita harus mendidik mereka
karena itu adalah kewajiban kita sebagai seorang guru”
-Wardan
Syah-
Dian
Pratama Sari, GGD Aceh Selatan, Penugasan SMA N Unggul Aceh Selatan, Bidang
Studi Fisika, asal Cilacap, Jawa Tengah.
Ini
adalah jalan Allah yang tidak pernah bisa ditampik kebenarannya. Mungkin,
melalui do’a malaikat kala itu, Allah mengabulkan pembicaraan singkatku dengan
kakak tingkat ketika aku duduk di bangku SMA kelas XI. Saat itu, beliau
bertanya, “Dian mau jadi guru, ya? Guru yang seperti apa?”, lalu aku menjawab,
“iya, Dian pengin jadi guru yang bisa ngajar di daerah yang terpencil, daerah
tenang ga ada bising.”
Pembicaraan
itu terkenang kembali saat Yudisium kelulusanku. Dekan FMIPA UNY mengumumkan
adanya program SM-3T (Sarjana Mendidik daerah Terdepan, Terluar, dan
Tertinggal). Sontak dalam benakku, ini adalah kesempatan besar mewujudkan apa
yang selama ini aku impikan.
Singkat
cerita, aku menjadi bagian dari MSI (Masyarakat SM-3T Indonesia), bertugas di
Nusa Tenggara Timur, SMP N Satap Nggemo Kecamatan Maukaro. 10 Bulan di daerah
penugasan, memberikan kesan mendalam tentang bagaimana 60 tahun lebih Indonesia
merdeka ternyata belum sepenuhnya memberikan kemerdekaan pada Pendidikan di
Indonesia.
26 Mei
2015, Negara mengirimku kembali ke tempat tugasku yang kedua, yakni Kabupaten
Aceh Selatan. Ini adalah pilihan yang sulit. Bagaimana tidak sulit? saat itu,
aku masih berstatus sebagai mahasiswa pascasarjana semester II Universitas
Negeri Yogyakarta. Melalui banyak lobi dengan dosen, aku menyelesaikan kuliah
di semester II dengan baik. Orang tua, hanya memberikan pesan bahwa apapun yang
kita lakukan adalah bentuk dari sebuah pilihan. Apapun pilihan kita, jalani
dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan hati. Jadilah Guru yang berprestasi.
***
Aceh Selatan, memiliki pemandangan
Pendidikan yang berbeda dengan Nusa Tenggara Timur. Pendidikan di sini, terasa
lebih kental terbukti dengan adanya program Sekolah Unggul dari pihak Kabupaten
terlebih dari pihak kabupaten aku ditugaskan di salah satu sekolah unggul
tebaik di Kabupaten Aceh Selatan, yaitu SMA N Unggul Aceh Selatan. Terletak di
pusat Kabupaten, merupakan sekolah berasrama yangmana peserta didik yang masuk
adalah peserta didik pilihan. Mereka melalui 5 kali tahapan tes masuk (tes
tulis, tes kemampuan bahasa inggris, tes mengaji, dan wawancara serta tes
potensi akademik), memiliki waktu belajar di atas rata-rata sekolah pada
umumnya yaitu sesi pagi (07.30-13.05), sesi sore (14.30-17.50) dan sesi malam
(08.15-21.35). Alhasil, berdasarkan data prestasi belajar peserta didik,
rata-rata nilai semesternya dapat mencapai 89. Selain itu, dalam kompetisi
berbasis pendidikan seperti Lomba Cerdas Cermat, Lomba Debat Bahasa Indonesia,
Lomba debat Bahasa Inggris ataupun Olimpiade Sains Kabupaten, SMA N Unggul Aceh
Selatan selalu menduduki peringkat 2 besar di Aceh Selatan.
Pikirku saat mengetahui hal tersebut,
sepertinya aku salah sasaran apabila ditempatkan di sekolah ini.
***
Hari pertama masuk sekolah, pengalaman
berharga buatku. Salah seorang peserta didik mencoba menguji pemahamanku
tentang materi gelombang. Dia berkata bahwa soal yang aku berikan, tidak logis.
Tali sepanjang 1 meter membentuk gelombang sebanyak 4 buah sehingga panjang
gelombang yang terbentuk adalah 0,25 m. Melihat kejadian tersebut, aku mencoba
menjelaskan menggunakan media seadanya sehingga peserta didik tersebut memahami
apa yang dimaksud dengan banyak gelombang dan panjang gelombang.
Berkaca dari hal tersebut,
mengingatkanku pada kebiasaan sewaktu aku SMA. Selalu membuat guru naik darah
karena protes nilai yang tidak adil, jawaban benar yang disalahkan, konsep yang
tidak sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam buku. Paling tidak aku tahu dan
menyadari bahwa peserta didikku sekarang adalah tipe peserta didik yang tidak
hanya menerima pengetahuan dari guru belaka tetapi mereka adalah peserta didik
yang mampu dengan baik mengevaluasi pengetahuan yang guru berikan. Mereka
berlari mengejar impian, menjadi pribadi pembelajar yang mandiri. Mereka mampu
diajak berdiskusi dan mengembangkan model pembelajaran yang benar-benar
berpusat pada peserta didik.
Dalam hatiku bersyukur bahwa
di Barat Indonesia, Bagian terdepan dari Indonesia, Indonesia memiliki
calon-calon penerus Bangsa yang luar biasa dan aku menjadi bagian dari mereka
untuk bersama mencerdaskan Indonesia.
***
Semester pertama, aku lalui dengan agenda
mengajar kelas XI pada sesi pagi dan malam serta kelas XII pada sesi pagi dan
malam juga. Selain itu, aku ikut aktif menjadi bagian tim pengajaran di SMA N
Unggul Aceh Selatan. 28 Jam adalah jam kerjaku selama 1 minggu pada semester 1
ditambah dengan adanya tugas sebagai pembimbing Olimpiade Fisika selama 3 jam
di setiap hari Sabtu.
Berbicara masalah Olimpiade, ini adalah
kali pertama aku benar-benar menjadi pembimbing. Biasanya, hanya sebagai kawan
yang diajak diskusi permasalahan olimpiade, tetapi sekarang diberikan amanah
untuk membimbing 11 anak berbakat dan berminat dalam mata pelajaran fisika yang
nantinya harus diseleksi menjadi 5 anak yang harus diajukan dalam kompetisi
Olimpiade Sains kabupaten. Dimulai dari
awal semester 1, aku sudah mulai membimbing mereka. Dengan berbekal niat dan
tekad, aku berusaha sebaik mungkin untuk mentransfer pengetahuan kepada mereka.
Kamis, 18 Februari 2016 jika tidak salah ingat adalah hari dimana kompetisi
diselenggarakan dan dari cabang fisika, mengirimkan Rahmanda Harbi (XI), A.F.
Riyadhul Athaya (XI), Ilham Luthfi (XI), Yoga Ichlassul Amal (X), dan Putri
Nurul Alfiza (X) sebagai perwakilan sekolah. Alhamdulillah, satu dari lima anak
yang dikirimkan dapat meneruskan pada kompetisi selanjutnya Olimpiade Sains
Provinsi atas nama Rahmanda Harbi yangmana dia berhasil menduduki peringkat
ke-3. Perjuangan untuk menempatkan Rahmanda Harbi pada peringkat ke-3 tidaklah
mudah. Pada awal pengumuman, dinyatakan bahwa tidak ada perwakilan dari SMA N
Unggul Aceh Selatan cabang Fisika yang meneruskan pada tahap Olimpiade Sains
Provinsi tetapi berbekal pernyataan Rahmanda yang meyakini bahwa dirinya dapat
mengerjakan tes kemarin dengan baik, dan berbekal tanggungjawab yang diberikan
sekolah kepadaku, dengan ditemani oleh seorang guru senior aku memberanikan
diri untuk bertanya pada dinas pendidikan Kabupaten Aceh Selatan. Setelah
melihat hasil kerja Rahmanda, dapat diketahui bahwa terdapat beberapa jawaban
yang tidak dinilai oleh korektor. Untuk itu, panitia memberikan kesempatan
untuk meminta penjelasan kepada korektor dan Alhamdulillah korektor sama sekali
tidak berkeberatan untuk memberikan penjelasan. Akhir dari penjelasan korektor,
dinyatakan bahwa Rahmanda Harbi memiliki skor yang sama dengan peringkat ke-3
sebelumnya, yaitu Kelvin peserta didik asal SMA N 1 tapaktuan. Oleh karena itu,
melalui persetujuan Kepala Sekolah, Panitia Olimpiade Sains Kabupaten, dan
Dinas Pendidikan kabupaten Aceh Selatan, diselenggarakanlah tes ke-2 untuk
Rahmanda Harbi dan Kelvin. Hasil dari tes ke-2 dinyatakan bahwa Rahmanda Harbi
keluar sebagai peringkat ke-3.
Belajar dari hal tersebut,
meskipun kita harus berhadapan dengan pihak yang memiliki kekuasaan lebih
tinggi, pihak-pihak yang berkompeten, pihak-pihak senior, prinsip kita adalah
satu “menjunjung kebenaran”. Apabila yang kita yakini adalah benar, jangan
pernah takut karena Allah selalu berada dihati orang-orang yang selalu
menjunjung kebenaran dengan penuh tanggungjawab. Jangan pernah ragu dan jangan termakan oleh
prasangka yang belum benar adanya. Hadapi apa yang harus dihadapi.
Semester dua adalah semester yang penuh
dengan jadwal-jadwal mepet. Persiapan Ujian Nasional menyita perhatian begitu
banyak ditambah pekerjaan menjadi tim Pengajaran tidak sedikit untuk
mempersiapkan Ujian Nasional. Mulai dari Bimbingan Belajar Ujian Nasional yang mengharuskan
6 mata pelajaran selama 4 bulan bertatap muka penuh sehingga ada beberapa mata
pelajaran yang ditiadakan pada semester 2 khusus untuk kelas XII, seperti
contohnya penjaskes dan seni budaya. Selain itu, mengorganisasi guru agar
paling tidak akhir Februari harus sudah menyelesaikan materi pembelajaran pada
semester dua karena pada Bulan Maret hanya akan ada Ujian Praktik, Ujian Sekolah, dan 2 kali
Ujian Try Out kabupaten.Selain itu, mengorganisasi penyusun soal Ujian
Sekolah agar segera menyerahkan soal pada bagian Kurikulum/ Pengajaran pada
akhir minggu ke-3 februari. Belum selesai mempersiapkan Ujian Nasional, aku
sudah dihadang dengan tugas persiapan Penerimaan Peserta Didik Baru 2016/2017
yang mewajibkanku untuk menyusun soal IPA. Lain dari pada itu, segera setelah
Ujian Nasional selesai, mulai pada pekerjaan mempersiapkan kegiatan Ujian
Semester 2.
Kondisiku yang tidak lagi menjadi wanita
single tidak menyurutkan aktivitasku di sekolah. Alhamdulillah suami
mendukung penuh tugasku sebagai guru karena tidak lain beliau juga sejiwa
dengan ku. Hatinya tidak bisa berpaling dari dunia pendidikan seperti diriku
yang akan selalu berbuat semaksimal mungkin agar peserta didikku dapat belajar
dengan baik dan benar serta memperoleh nilai yang maksimal.
Mengacu pada prestasi belajar yang
ditorehkan kelas XII pada Ujian Sekolah dan Ujian Try Out Kabupaten
sedikit banyak memberikan kesan baik padaku. Hanya beberapa anak yang nilainya
di bawah Kriteria Kelulusan Minimal (KKM) tetapi berdasar pada rata-rata nilai
kelulusan, memberikan data bahwa 100% untuk mata pelajaran Fisika dinyatakan
Lulus dengan rata-rata nilai sebesar 80.
Ini adalah awal yang baik. Pengalaman
pertama menjadi guru kelas XII tidaklah mudah tetapi tetap harus selalu
berusaha dan belajar serta berdo’a. Hal ini tentu saja sebagai bahan evaluasiku
ke depan untuk menjadi guru yang lebih baik lagi.
***
Buatku, mereka adalah pribadi yang luar
biasa. Mengapa luar biasa?Sesuai dengan namanya SMA N Unggul Aceh Selatan.
Mereka adalah pribadi yang benar-benar unggul, baik dari segi akademik, agama,
maupun seopan santun. Meskipun tidak sedikit dari mereka yang masih membutuhkan
beberapa bimbingan, tetapi jika ditilik lebih dalam lagi, kata unggul ada di
dalam benak mereka dan mereka mengemban kata Unggul dengan baik di hati mereka.
Jadi, tidak salah ketika Bapak Wardan
Syah, S.Pd selaku Kepala Sekolah menyatakan seperti pada kalimat pembuka cerita
ini bahwa kewajiban kita sebagai guru adalah mendidik peserta didik tidak hanya
mengajar mereka. Kita juga sebagai konselor untuk mereka. Mengajar dan mendidik
harus selalu dicamkan dalam hati kita selaku seorang guru untuk siapapun yang
menjadi peserta didik kita. Tidak ada peserta didik bodoh, yang ada adalah
mereka yang belum menemukan dimana letak kemampuan terbaik mereka. Untuk itulah
kita hadir membersamai mereka dalam menggapai masa depan yang lebih cerah.
***
dipagi
hari yang cerah ini-kulangkahkan kaki dengan pasti
menuju
puncak bukut gemilang-kuraih masa depan
SMA
Unggul Aceh Selatan
Kebanggaan
kita semua
disana
ku dibina dan didera untuk kejayaan negara
ayo
kita bangun Indonesia-ayo kita bangun kota naga
mari
kita raih prestasi untuk kota naga nan jaya
SMA
Unggul Aceh Selatan
kebanggaan
kita semua
)*
Mars SMA N Unggul Aceh Selatan
***
Jika
aku masih berpikir kalau penempatanku ini adalah salah sasaran, sepertinya aku
harus mengoreksi kata-kataku
Aku
ini adalah abdi negara,
Allah
menempatkanku sebagai Abdi negara ditempat yang terbaik untuk menjadikanku guru
yang baik, maka dimanapun tempatnya, aku harus bisa senantiasa bersyukur karena
itu merupakan rezeki yang Allah berikan kepadaku
Oleh karena itu, menjadi seorang guru adalah
tugas dan tanggungjawab yang luar biasa yang harus diemban. Seorang guru
harusnya mampu menjadi pribadi yang unggul. Unggul dalam mengajar dan unggul
dalam mendidik. Unggul dalam memasukkan unsur pembelajaran yang bersifat
kontekstual dan kekinian sehingga menghasilkan peserta didik yang melek
terhadap perkembangan kehidupan.

0 komentar:
Posting Komentar